Tuesday, May 14, 2024

8484


    sebelum relung masa berlopong, aku tuntut lima belas detik
hanya aku, berlutut menghadap pagar diaman tempat anak itu jatuh
berbasikal menggelongsor bukit tar lot tujuh kosong sembilan.

detik satu - tiga
biarkan empat jiwa yang aku tak pernah tahu garisnya, sesempurna mana
selarinya dengan garis jalan aku
bertahun pendek bermain pondok.
aku tuntut kesaksian di detik tiga untuk sejelaskan dirinya,
umur yang aku benarkan tanpa pelukisan berdagang kasih.
mata wang, tak bersyarat, jendela kaca berdiri merangkul ruang empat dinding.

detik empat - lapan
jatuhkan dua kami ke lohong, suntingkan fana khayali yang dia bergarisan
sejauh dari selari dengan hidupnya aku.
gundah aku paling lara hanya dia.
satu detik dia memulai garis masa selari bicara kita, garis bermetamorfosis
idea pedang
tertanam ke tanah.
aku tuntut detik enam melayari dimensi yang takdir aku sebagai habuk antar bintang,
mungkin dia bermusafir ke aotearoa,
mungkin dia terluka tiga daripada tujuh hari,
mungkin dia bercinta.
mana mana fiksi yang kau jual aku beli.
berikan aku fatamorgana yang wanita itu tak pernah terikat, dia boleh menangis,
dia boleh dikecewa, hanya tak terikat.

detik sembilan
sofa biru baldu, tanah menginti kuku, kekosongan senja pertama kali

detik sepuluh - tiga belas
boleh aku minta kita duduk berdua dalam kereta wira ayah?
kau satu-satunya jiwa garis selari yang aku sayang tanpa lompang.
cerita kita cuma tragedi puitis yang sedang
karena cerita terpuitis tak pernah dipentaskan.
kekal jejak ingatan, kita, dua anak kecil di bawah rimbun pokok manggis
buram, tapi terukir sedalamnya.

detik empat belas - lima belas
balaskan pesan suara.
aku tak pernah terima salahku.
garis satu itu merusak aku tak pernah sembuh,
aku penuh amarah tak beralamat.
relung masa ambruk, aku tuntut kejelasan namun bukan dari dia.
dua detik dikejar khatam masa, untuk merasakan,
menerima, merasa lagi.
bukan sepertiku hilang tanpa remuk terdahulu.
bertemulah satu kali lagi, aku se orang yang kau tak kenal sebelumnya.